Wah, ternyata pas lagi bikin tulisan Suami Hebatku, gw nemuin tulisan ini yang masih dalam bentuk draft per tanggal 22 Mei 2010. Setelah baca lagi, kayaknya sayang klo udah nulis sepanjang2 ini dan ga dipublish deh
Kemaren malem gw ikut2an Danang ngebaca bahan kuliah Ibu Sri Mulyani yang akhir2 ini banyak beredar di email2. Pasti uda banyak orang yang dapet bahannya juga. Kuliahnya tertanggal 18 Mei, tentang Kebijakan Publik dan Etika.
Gw akui untuk bisa membaca satu bahan sebanyak itu, memang butuh konsentrasi penuh, karena kalau tidak pasti di tengah2 baca akan lost
Tapi setelah dibaca terus dan terus, banyak banget yang bisa gw rasakan dan gw ungkapkan dari bahan kuliah itu.
Gw disini tidak akan membahas benar salah, atau tentang unsur politik siapa lawan siapa ya. Ga akan seberat itu. Gw akan lebih membahas tentang Ibu Sri Mulyani-nya ya. 
Yang gw bisa rasakan setelah membaca itu, luar biasa!
Banyak statement2 beliau yang gw aminin, seperti politik dimana saja pasti tentang kepentingan. Dan kepentingan itu kawin diantara beberapa kelompok untuk mendapatkan kekuasaan itu. Pasti itu perkawinannya adalah pada siapa saja yang menjadi pemenang.
Itu sangat sangat mengena lho, dan memang tepat. Gw pernah punya pengalaman ikut organisasi pas di kampus, dan kebetulan gw dan pacar gw (yg sekarang suami gw) merasakan hawa politik itu sendiri, walaupun ga dalam skala yang cukup besar ya. Tapi saat itu aja gw merasa, gila ya, yang dinamakan politik itu bisa membuat orang jadi berubah. Bisa membuat musuh jadi teman, teman jadi musuh. Atau hal-hal yang dulu kita pikir itu tidak mungkin terjadi, ternyata bisa lho terjadi di ajang politik. Dan panjang lagi pertanyaan2 gw tentang how amaze gw dengan yang namanya politik. Dan itu memang karena politik itu panggungnya perkawinan kepentingan2.
Selain itu, di materi itu, gw bisa merasakan seorang Sri Mulyani, manusia super, ternyata tetap seorang manusia, dan lebih lagi, dia ternyata hanya manusia biasa. Maksudnya?
Seringkali kalau gw melihat tv, melihat orang berdebat politik, atau terkait pemerintahan, gw sering berpikir kalau jiwa mereka dari besi. Atau mungkin mereka robot ya?
Terkait pengalaman gw di kampus, gw akhirnya memutuskan kalau gw uda cukup merasakan politik2 yang seperti itu. Capek hati, capek pikiran, capek mikir strategis, harus tega sama orang lain, harus kuat pendirian (yg bahkan gw ga tau apakah kalau sampai banyak orang tersakiti itu berarti kita masih harus sekuat itu), dll dll. Saat itu, gw mundur dari semua ajang politik itu. Walau gw merasa bidang itu cocok dengan gw, tapi begitu tercampuri politik yg begitu besar, rasanya gw jadi orang paling salah deh. Dan saat itu gw yakin kalau gw gak cocok dengan hal-hal yang berbau politik.Gw pingin semuanya ideal2 saja, gw memperjuangkan apa yg bisa gw bawa, apa yg memang harus dibawa karena gw cinta organisasi itu. Tapi ternyata tidak cukup. Gw harus sekuat baja untuk merasakan dibenci orang, untuk terus tidak tahu kenapa kelompok itu benar2 tidak mau mendengarkan sedikitpun penjelasan dari gw, dll. Dan gw cukup yakin gw belum sekuat itu. Jadi gw memutuskan untuk mundur.
Nah, saat di kampus itu gw juga belajar, kalau sepertinya memang ada orang-orang yang justru menikmati semua dinamika dalam politik, harus mengatur semua strategi kemenangan, dan dengan dinginnya menebas semua kepentingan yang tidak cocok dengan visinya.
Gw pikir Sri Mulyani tipe orang yang sedingin ini. Ternyata dia sangat sangat manusia. Terlihat sekali di materi kuliah itu tergambarkan pergolakan batinnya selama dia menjabat di pemerintahan, bagaimana dia tetap ingin menjadi dirinya sendiri tapi bagaimana susahnya menjadi diri sendiri dengan banyaknya kepentingan yang harus difasilitiasi maupun dikorbankan. Ini contoh2 statement yang nunjukkin pergolakan itu.
“Ibu tidak usah dimasukkan ke hati bu. Hal seperti itu hanya satu episod drama saja. ”
Tapi kemudian itu menimbulkan satu pergolakan batin orang seperti saya.
Karena pada saat saya menerima tangungjawab untuk menjadi pejabat publik, saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri, saya tidak ingin menjadi orang yang akan menghianati dengan berbuat corrupt. Saya tidak mengatakan itu gampang. Sangat painful. Sungguh painful sekali. Dan saya tidak mengatakan bahwa saya tidak pernah mengucurkan atau meneteskan airmata untuk menegakkan prinsip itu. Karena ironinya begitu besar. Sangat besar. Anda memegang kekuasaan begitu besar. Anda bisa, anda mampu, anda bahkan boleh, bahkan diharapkan untuk meng abuse nya oleh sekelompok yang sebetulnya menginginkan itu terjadi agar nyaman dan anda tidak mau.
Gw hampir nangis pas baca itu, karena gw saja sempat merasakan sedikit rasa painful itu di panggung politik yang sangat kecil, walaupun akhirnya gw dengan tegarnya cepat2 mundur (banyak jg yang menganggap itu berarti terlalu penakut). Tapi mengetahui bahwa seorang Sri Mulyani juga merasakan itu, selama beberapa tahun, dalam skala suatu negara, gw tidak bisa membayangkan seberapa besar painful dia, dan seberapa banyak air mata yang harus dikeluarkan.
Hal lain yang saya rasakan adalah, bahwa Sri Mulyani sangat mencintai Indonesia. Kalau membaca materi itu, tersirat dimana-mana kok bagaimana besarnya cintanya pada Indonesia, sampai membuat dia harus terus bertahan menjadi manusia super dalam keadaan politik yang ga karuan.
Suatu penerimaan jabatan yang saya lakukan dengan penuh kesadaran,
Tentu saya tidak perlu harus mengulangi, karena itu menyangkut, yang disebut, tujuan konstitusi, yaitu kepentingan masyarakat banyak. Yaitu mencapai kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur.
Anda semua bertanggungjawab sama seperti saya. Mencintai republik ini dengan banyak sekali pengorbanan sampai saya harus menyampaikan kepada jajaran pajak, jajaran bea cukai, jajaran perbendaharaan, “Jangan pernah putus asa mencintai republik.” Saya tahu, sungguh sulit mengurusnya pada masa-masa transisi yang sangat pelik.
Kecintaan itu paling tidak akan terus memelihara suara hati kita. Dan bahkan menjaga etika kita di dalam bertindak dan berbuat serta membuat keputusan.
Komentar gw atas nasionalisme yang begitu besar: Gila gila gila!! Dalam keadaan dia sudah ditampar disana sini, pertentangan batin, menangis, bahkan mungkin sampai dia harus sedikit mengorbankan keluarga demi negara, dia masih punya rasa cinta yang begitu besar ke negeri ini. Ckckck…
Tadi gw menulis bahwa dia adalah seorang manusia super, di materi itu gw juga benar2 yakin kalau dia seorang wanita super! Dia tetap menunjukkan bahwa dia adalah seorang istri dan ibu, dan dia tetap mengutamakan keluarganya.
Waktu di dewan saya menjadi personality yang lain, nanti di kantor saya akan menjadi lain lagi, waktu di rumah saya lain lagi. Untung suami dan anak-anak saya tidak pernah bingung yang mana saya waktu itu.
Itu ongkos yang paling mahal bagi seorang pejabat publik yang harus menjalankan dan ingin menjalankan secara konsisten.
Dan gw benar2 pingin standing applause untuk statement ini:
Dan disitulah hal-hal yang sangat nyata mengenai bagaimana kita harus membuat garis pembatas yang sangat disiplin. Disiplin pada diri kita sendiri dan dalam, bahkan, pikiran kita dan perasaan kita untuk menjalankan tugas itu secara dingin, rasional, dengan penuh perhitungan dan tidak membolehkan perasaan ataupun godaan apapun untuk, bahkan berpikir untuk meng-abusenya.
Ternyata itulah pegangan seorang wanita super bisa bertahan, dan terus maju dengan kepala tegak. Gw ga bisa membayangkan berapa kali dia harus mengulang2 kalimat itu untuk terus menguatkan tekadnya di saat hampir menyerah.
Dan di akhir, sempat terlintas di otak gw, “berarti Sri Mulyani akhirnya kalah atau menyerah dari politik ya”, eh jawaban di akhir kuliahnya sangat brilian:
Apakah Sri mulyani kalah, apakah sri mulyani lari? Dan saya yakin banyak yang menyesalkan keputusan saya. Banyak yang menganggap itu adalah suatu loss atau kehilangan. Diantara anda semua yang ada disini, saya ingin mengatakan bahwa saya menang. Saya berhasil. Kemenangan dan keberhasilan saya definisikan menurut saya karena tidak didikte oleh siapapun termasuk mereka yang menginginkan saya tidak disini. Saya merasa berhasil dan saya merasa menang karena definisi saya adalah tiga. Selama saya tidak menghianati kebenaran, selama saya tidak mengingkari nurani saya, dan selama saya masih bisa menjaga martabat dan harga diri saya, maka disitu saya menang. Terimakasih.
LUAR BIASA IBU!LUAR BIASA!!
Gambar diambil dari sini
mbk aku... 
11:48 am
Wuih, tulisan yg sangat menarik benar sayang kalo tidak dipublish…pengalaman juga ternyata. Semua bisa karena biasa, sering-2lah nulis biar jadi penulis yg handal.
Pada kesempatan khusus di ultah yg ke 24 ibu sampaikan Selamat ultah 27 Juli semoga Alloh yg pengasih & penyayang melimpahkan rakhmatm, hidayah & perlindunganNya.
1:05 pm
Iya,,makasih ya buu…*sayang selalu*
10:37 am
Mantab, tapi saya belum dapat materi kuliahnya.Bisamintadi shareke
flamehearth@gmail.com
Terima kasih
3:56 pm
Hai hai,,salam kenal yaah…nanti akan dikirim ke email ya. Makasih
1:18 pm
Gw senyum2,Ta..begitu baca petikan tulisan lo yg ini…
“Itu sangat sangat mengena lho, dan memang tepat. Gw pernah punya pengalaman ikut organisasi pas di kampus, dan kebetulan gw dan pacar gw (yg sekarang suami gw) merasakan hawa politik itu sendiri, walaupun ga dalam skala yang cukup besar ya. Tapi saat itu aja gw merasa, gila ya, yang dinamakan politik itu bisa membuat orang jadi berubah. Bisa membuat musuh jadi teman, teman jadi musuh. Atau hal-hal yang dulu kita pikir itu tidak mungkin terjadi, ternyata bisa lho terjadi di ajang politik. Dan panjang lagi pertanyaan2 gw tentang how amaze gw dengan yang namanya politik. Dan itu memang karena politik itu panggungnya perkawinan kepentingan2.”
Wah…wah..gw nostalgia bgt nih sm tulisan lo ini..
Di kampus gw skarang, gw jg hampir “tjebak” lg dg sperti yg lo tulis ini.. karena ada yg ajak gw jd pengurus ikatan mahasiswa dsini..tp karena gw tau lebih bnyk menyakitkanny dr pada menyenangkanny, gw tolak aj..gw udah cukup bgt tau yg namany “politik kampus”
Terutama kata2 lo: “musuh jadi teman, teman jadi musuh”… Hahaha..bener2 nyangka y kejadian itu bs jg terjadi ke kt dan kt rasakan sampe dalem bgt
Dunia memang penuh basa basi… Jd, yg penting bagaimana kita tetap menjadi diri sendiri alias “be ourself”…
Nice to read ur blog..
3:14 pm
Iyaa bener,,klo inget jaman2 itu,,pas gw nangis2, yana jg, trus siapa ngebela siapa,,bisa ketawa2 sendiri ya Bolo
Wah klo lo berani ambil resikonya sih, ambil aja Bolo,siapa tau culture disana beda kali (walo ga yakin si gw, secaraaa namanya tetep aja politik, hehe)
Iya,,be ourself! setuju gw
3:41 pm
Sungguh luar biasa ibu yang satu ini Sita’, bahkan boss gw (Hekinus Manao) mengikuti jejaknya untuk menyandang amanah menjadi Direktur Eksekutif Bank Dunia. Masih teringat lho momen di mana Pak Hekinus Manao menangis saat perpisahan dengan Ibu SMI beberapa bulan yang lalu….
4:52 pm
Iya,,,sempet baca kemaren2 di berita ttg Pak Hekinus Manao yang cabz juga ikut SMI…si Pak Hekinus ini kinerjanya hebat juga yak?
11:06 am
Hebat banget. Sayangnya sampai comment ini gw post, terjadi kekosongan kekuasaan di Itjen. Ini juga menanti Pak Menteri memilih penggantinya.
7:48 pm
Habis berkunjung ke blognya Sheilla, eh, nemu tulisan ini. SMI memang hebat ya. salut!
12:22 pm
Hai mas, salam kenal ya
Iyaa hebat ya beliau,,salut deh kalau baca ini